Speak Up, Dear!

Halo semua! Apa kabar? 
Belakangan aku lagi sibuk dengan kegiatan magang dan pembuatan laporan magang nih. Buat kalian yang kuliah apa udah ngerasain gimana rasanya jadi anak magang? Atau mungkin sekarang lagi sibuk magang? I will surely write about my internship experience in another post, wait for it ya! :D 

Buat post kali ini aku mau cerita (atau lebih tepatnya curhat) tentang permasalahan yang cukup mengganggu aku belakangan ini. Gak apa - apa lah ya sekali - sekali curhat di blog, siapa tau ada juga di antara kalian yang pernah ngalamin hal kayak aku jadi kita bisa saling sharing hehehe. So, kita mulai aja ya 'sesi curhat' kali ini. Here we go!



Jadi, aku ini tergolong orang yang lebih fasih dalam komunikasi secara tertulis dibandingkan dengan berkomunikasi secara verbal. Not that I am gagap atau gimana ya. I just didn't feel comfortable enough to talk much, kecuali dengan orang - orang terdekat. To sums up, just think of me as an introvert.

P.S : Well, sebenernya gak semua introvert itu identik dengan 'pendiam', 'irit ngomong', dsb, tapi untuk memudahkan kalian membayangkan kira- kira kondisi aku gimana aku menggunakan kata introvert dalam artian yang dipahami masyarakat awam. Selengkapnya aku akan bahas mendalam soal introvert di post yang mendatang.

I do talk in front of people in public though, karena pekerjaan sampingan aku sebagai asisten lab mengharuskan untuk berbicara di depan kelas (lagian gak mungkin kan ngajar tapi diem - diem doang hehehe). Selain itu sebagai mahasiswa Manajemen juga banyak tugas dalam bentuk presentasi sehingga pasti aku dituntut untuk berbicara di depan umum. But like I said before, public speaking wasn't my thing.

Kebalikannya dengan menulis, I love writing. Menulis jadi salah satu cara aku untuk mengekspresikan apa yang aku rasakan dan aku pikirkan. Aku ngerasa dengan menulis aku bisa menuangkan pikiran dan perasaan *ceilah* dengan lebih bermakna dibandingin dengan ngomong langsung. Aku juga orang yang percaya dengan ungkapan pena lebih tajam daripada pedang, so writing is so powerful in my opinion.

Sampai suatu ketika.

I feel stuck, not only in verbal words, but also in written words. Aku sampai ke satu titik di mana bahkan aku gak tau apa yang harus aku tulis karena even I can't understand what I felt. Untuk aku paham apa yang aku rasain aja aku gak bisa, gimana aku mau ngomong atau bahkan menuliskannya? Ketika aku ngerasa bingung, galau, you name it dan aku cerita ke temen aku, bahkan aku gak tau how I address that feeling. Makanya aku udah lama gak nulis post, karena aku gak tau bagaimana aku harus menulis ide - ide yang ada di kepala ini supaya messagenya sama dengan yang aku pikirin. Begitu juga dengan komunikasi verbal, aku jadi ngerasa I say too few. Entah kenapa rasanya makin males buat ngomong.

Tiba di suatu titik di mana I thought this was bad. Buat kalian yang pernah atau mungkin sedang ngalamin hal kayak aku sekarang, please try to recover from it. Ini nggak sehat. Kenapa aku bilang gak sehat. Manusia merupakan makhluk sosial. We do need to socialize. Dan salah satu bentuk sosialisasi adalah dengan komunikasi, either secara verbal ataupun tertulis. Kebutuhan kita itu adalah berkomunikasi, dan yang namanya kebutuhan harus dipenuhi untuk kita bertahan hidup. Beda ya sama keinginan yang sifatnya gak wajib ada. Kalau kebutuhan gak terpenuhi, bakal ada yang gak beres dong. Misalnya nih kebutuhan kita itu makan. Kalau makan kita gak terpenuhi kita bakal lemes, sakit, gak bisa beraktivitas, dsb. Begitu juga dengan komunikasi. Contohnya aku yang kesulitan buat ngungkapin pikiran dan perasaan aku. Artinya komunikasi aku macet, gak bisa disalurkan. Kalau kita lagi kesel sama orang terus dipendem seharian aja bisa bikin mood jelek, gimana ini kalau semua yang kamu pikirin dan rasain gak bisa kamu ungkapin. Dicatet ya, gak bisa bukan gak mau. Mungkin ada beberapa hal yang gak bisa kita keluarin karena confidential, tapi di kasus aku ini mostly hal yang gak confidential juga gak mampu aku ungkapin.

Beberapa waktu berhadapan dengan kondisi itu, membuat aku stres sendiri. Even writing can't help me. Aku biasanya menggunakan tulisan sebagai salah satu metode stress relief, tetapi kali ini justru ketidakmampuan menulis itu malah bikin stres. Writing used to keep me sane, so I will use it to take me back to my sanity. Aku sadar aku gak boleh terus kayak gini, bisa - bisa aku jadi makin stres or maybe depressed from lack of emotional sharing. Aku bukannya mengencourage kita untuk share all what we feel. Privacy itu juga perlu. Gak semua yang kita rasain harus dikasih tahu ke dunia. But at least share it with yourself or with people you trust. Percaya deh, beban yang kalian pikirin dan rasain bakal berkurang or mungkin hilang.

Karena aku sendiri sadar kalau aku gak boleh lama - lama terjebak dalam keadaan ini, aku mulai cari cara untuk mengatasinya. Salah satu cara yang aku gunakan besides curhat dengan temen adalah dengan menulis, misalnya di blog ini. Atau buat kalian yang not a blog person, kalian bisa juga nulis di notes handphone atau mungkin di diary. Sesimpel kalian nulis : hari ini gw bete karena gebetan gak bales chat. Yang penting kalian ungkapin uneg - uneg kalian.

Oiya, walaupun aku tadi bilang kalau aku bukan tipe orang yang suka berbicara di depan umum, aku juga menyadari pentingnya komunikasi secara verbal. Karena again, manusia sebagai makhluk sosial tentu juga butuh kehadiran manusia lainnya untuk berkomunikasi. Dan sebaiknya komunikasi yang dilakukan itu ada feedbacknya juga. Kalau tadi menulis lebih untuk sharing hal - hal yang gak mau dibagikan ke dunia luar, komunikasi verbal misalnya dengan ngobrol mungkin bisa dilakuin buat berbagi hal yang tidak terlalu pribadi, atau bisa juga untuk hal yang pribadi jika dengan orang yang kalian percaya. Dulu aku pernah belajar di mata kuliah Dasar - Dasar Manajemen, di mana di antara media - media komunikasi yang ada, komunikasi verbal langsung adalah komunikasi dengan high media enrichment, di mana kita bisa dapet feedback secara langsung. Aku pun menantang diri aku sendiri untuk bisa speak up more, untuk kebaikan aku sendiri, terutama di dunia kerja atau organisasi di mana jika kita punya ide langkah terbaik adalah untuk mengeluarkan ide tersebut dan caranya adalah dengan ngomong. Tapi jangan asal ngomong ya, dipikirin dulu sebelum diungkapkan. Inget ungkapan mulutmu harimaumu. Gak perlu dijelasin lagi kan soal maraknya kasus karena keterlambatan menyadari makna ungkapan ini? :)

I am still not good in speaking tho, aku masih merasa kurang di sana - sini dalam hal berkomunikasi dengan orang lain. Kadang aku ngerasa kalau apa yang aku sampaikan itu tidak mewakili 100% apa yang aku pikirkan, ya maybe 50% lah. Aku juga suka stuck dalam komunikasi, terutama dengan orang yang baru dikenal. Pasti pernah dong kalian terjebak situasi di mana kalian berhadapan dengan orang yang baru kalian kenal, let's say misalnya kalian lagi nunggu beli makanan dan mas atau mbaknya ngajak kalian ngobrol. Gak mungkin dong kalian diemin aja? Pasti kalian bakal ajak ngobrol juga. Nah, I still suck at that. Kadang kalau ada yang ngajak ngobrol basa - basi aku suka bingung : what should I reply them? If I say this will this happen? Will they judge me if I say this? Will things be awkward? Hal - hal itu yang suka muncul di pikiran aku. Memang sih kadang pikiran aku aja yang terlalu cupu, udah mundur duluan sebelum nyoba. Makanya aku juga lagi belajar nih supaya aku bisa sedikit 'berbasa - basi' dengan orang lain. Walaupun aku sendiri sebenernya orang yang gak suka basa - basi, tapi sebenernya basa - basi ada perlunya juga sih. Siapa tau dengan berbasa - basi pembicaraan kita bisa mengarah ke hal yang lebih knowledgable atau bahkan menambah koneksi baru. So, I still learning to do it myself.

Intinya, aku cuma mau mengingatkan, jangan memendam perasaan dan pikiran sendiri. Ungkapin ke orang yang kalian percaya atau tuangin ke dalam diary kalian buat kalian salurin emosi kalian. Kalau kata orang dulu perasaan dipendem aja bisa bikin jerawatan. Mending sih kalau cuma jerawat, lama - kelamaan kebanyakan dipendem bisa - bisa bikin stres juga. Sekali lagi aku gak menyuruh kalian buat share everything about yourself to the world, just select what you feel need to be share and keep some for your own. Jangan lupa, seimbangkan antara komunikasi tertulis dan komunikas secara verbal ya, karena segala sesuatu yang balance pasti lebih asik *eaa*. Mari belajar berkomunikasi dengan lebih baik!

'Till we meet again!






Comments