L A B E L

"Enak ya jadi ekstrovert, bisa bikin suasana jadi rame"
"Diem banget sih anaknya, fix introvert ini mah"
"Pantesan dia sikapnya gitu, tipikal anak Leo banget deh"
"Gue kan INTP, pantesan gue gak cocok sama dia"


Pernahkah kalian mendengar kalimat seperti di atas? Atau mungkin tidak jarang kalian juga pernah mengucapkannya? 

Kalau dipikir - pikir, ternyata manusia itu senang ya melabeli diri sendiri dengan berbagai sebutan. Contoh paling sederhananya, misalnya tentang zodiak atau yang lagi kekinian sekarang ini, tipe kepribadian (misal tes MBTI). Makanya sekarang kalau diliat - liat banyak muncul tes kepribadian gratis di internet ataupun artikel - artikel dengan tema 'fakta - fakta tipe kepribadian'. Kalau kita throwback ke let say, 10 tahun yang lalu, sudah banyak juga tulisan - tulisan semisal ramalan bintang, yang sepertinya tidak pernah kehilangan pembaca setianya even until this time.

Jujur, aku juga termasuk orang yang suka mencari tahu mengenai tipe kepribadian ataupun hal - hal lain yang (katanya) bisa dijadikan acuan untuk tahu kepribadian kita. Walaupun belum terbukti ilmiah dan ada pro dan kontra juga mengenai tes - tes semacam itu, tapi to be honest it's still a fun activity to do.


Tujuannya apa? 


Bukannya kita sebagai si empunya jiwa harusnya lebih mengenal diri kita sendiri, dibandingkan dengan para pembuat artikel mengenai tipe kepribadian ataupun zodiak tersebut?


Ternyata, sebagai manusia kita belum tentu mengenal siapa diri kita sesungguhnya. Terkadang kita sendiri tidak mengerti apa yang kita rasakan, atau mengapa kita merasakan hal tersebut. Juga kenapa kita bisa mengambil sikap tertentu untuk setiap permasalahan yang kita hadapi. We feel like we don't have any words to describe what we feel and who we are. Kita mulai mencari kekosongan itu, mencari seseuatu yang bisa describe us best, yang bisa memberikan kita 'label', dan kemudian ketika kita menemukan 'label' tersebut, kita merasa kita matter, kita ternyata adalah 'seseorang'. 


'Label' tersebut juga yang membuat kita merasa kalau ternyata apa yang kita rasakan, kebingungan - kebingungan mengenai siapa kita sebenarnya itu memiliki jawabannya, memiliki sebutannya. Kita jadi lebih mudah untuk menjelaskan siapa kita (secara kepribadian) atau apa yang kita rasakan. 

Tapi, terkadang kita jadi semacam 'menjustifikasi' perilaku kita sesuai dengan traits dari 'label' kita tersebut. Misalnya dengan kalimat macam : 

Wajar dong gue bersikap kayak gini, gue kan (insert zodiac/shio/MBTI types here). 

Kita menjadi bangga dengan 'label' kita, bahwa sebenarnya hal yang kita rasakan, bagaimana kita menyikapi kehidupan kita (entah secara positif ataupun negatif) adalah impilikasi dari 'tipe kepribadian', 'zodiak', 'shio' kita, dsb.


And somehow that 'label' becomes our 'identity'. Tanpa sadar, kita senang untuk melabeli diri kita sendiri. Ketika kita membaca traits terkait 'label' yang kita percaya merupakan 'identitas' kita, kita menjadi begitu percaya bahwa seperti itulah kita adanya. Mungkin terkadang masih ada dari kita yang memilah - milah mana sifat yang 'benar - benar relatable' dengan kita, tetapi tidak jarang juga ada yang terdoktrin dengan apa yang dikatakan oleh artikel - artikel yang beredar di media mengenai 'who we really are'.

Seperti yang pernah aku katakan, to know ourselves better is such a joyful thing. Sampai saat ini saja bahkan aku rasanya belum 100% mengetahui siapa aku sebenarnya. Ada saat - saat di mana aku berkonflik dengan my inner self mengenai bagaimana sebaiknya aku bersikap dan terkadang aku juga mempertanyakan mengenai apakah hal - hal yang aku lakukan sudah benar. Tetapi aku menyadari sekarang wajar kalau saat ini kita masih don't have any idea about who we really are and how we should live. Lagipula, kehidupan juga tidak terlepas dari perubahan. Kalau dibandingkan tahun lalu dengan tahun ini saja pasti sudah banyak perubahan yang terjadi, entah kita sadari atau tidak. Siapa kita sekarang, di mana kita berada saat ini, semua juga masih bisa berubah. Life is full of mysteries and it will uncover itself as the time goes by

Kesimpulannya, menurutku it's okay to label ourselves, jadikan itu sebagai alat untuk lebih mengenal diri kalian. Tapi, jangan sampai 'label' tersebut membuat kalian stuck, merasa kalau kalian 'memang udah dari sononya begitu' dan bikin kalian menjustifikasi semua tindakan kalian. Don't let that label define who you really are for the rest of your life.

'Till we meet again!

Comments

Popular Posts