Untuk Kita yang (Sering) Insecure
Insecure udah jadi kata yang nggak asing di telinga. Kita jadi minder, nggak percaya diri, dan mungkin merasa berbeda. Banyak hal yang bikin kita insecure. Coba kita flashback ke masa remaja, pasti hal yang bikin kita insecure gak jauh dari masalah penampilan fisik. Kalian mungkin nggak asing dengan kalimat berikut ini :
Coba kulit gue seputih artis Korea.
Kenapa sih gue gendut banget?
Dan sebagainya.
Seiring bertambahnya usia, hal yang bikin insecure mungkin bergeser ke arah lain. Misalnya aja masalah karir. Sering aku lihat banyak orang yang ngerasa insecure dengan diri mereka ketika mau melamar pekerjaan, misalnya. Mulai dari merasa kalau bukan lulusan universitas ternama, sampai ke adanya gap year (selang waktu) antara lulus kuliah (atau dari pekerjaan sebelumnya) ke masa dia mau melamar kerja saat ini. Itu baru mengenai karir. Gaya hidup juga bisa bikin insecure, lho. Misalnya kalian itu anak rumahan sedangkan teman main kalian itu hobinya party, pasti akan ada masa - masa di mana kalian ngerasa ada di dunia yang berbeda dengan teman kalian (baca : merasa kurang gawl) yang ujung - ujungnya bikin kalian insecure.
There are so many things that make us feel insecure, from the one that maybe seems important, to the one that maybe don't make sense at all
Sebenarnya, apa sih yang bikin kita insecure?
Merasa tidak sesuai dengan 'society's so called standard'
Cantik 'katanya' kurus, sedangkan kita gemuk
Lulus kuliah 'katanya' harus langsung kerja, sedangkan kita nggak langsung kerja
Sadar atau nggak, di kehidupan kita sehari - hari banyak banget 'katanya'. Sampai - sampai secara nggak langsung 'katanya' tersebut jadi seperti standar yang dipegang teguh sama orang banyak. Nggak tahu siapa yang awalnya membuat, tapi 'katanya' tersebut, 'standar' tersebut, seperti udah menjadi semacam norma yang kayaknya kalau nggak diikutin itu ibarat pelanggaran. Kita jadi tertekan dengan 'standar' tersebut yang membuat kita rasanya harus bisa memenuhi 'standar' tersebut supaya kita jadi 'sama' dengan lingkungan kita dengan orang - orang di sekitar kita.
Kita =orang - orang sekitar kita = bebas dari rasa insecure?
Sekarang jadi muncul pertanyaan, apakah kita harus menjadi sama dengan 'standar' baru bisa lepas dari rasa insecure?
Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita bahas dulu soal konformitas (conformity). Menurut simplypsychology.org, konformitas adalah tipe pengaruh sosial yang melibatkan perubahan kepercayaan atau perilaku dengan tujuan untuk menyesuaikan diri dengan kelompok. Ternyata, jika berinteraksi dengan kelompok manusia dapat berubah untuk menyesuaikan diri dengan kelompoknya tersebut.
Ada sebuah artikel dari Wall Street Journal berjudul 'The Brain Science of Conformity' yang membahas penelitian mengenai konformitas. Singkatnya, penelitian tersebut menunjukkan ketika orang dihadapkan pada situasi di mana sekitarnya menunjukkan ketidaksetujuan terhadap orang tersebut, akan mengaktifkan area di otaknya yang berkaitan dengan kecemasan, rasa jijik, dan rasa tidak nyaman. Area lain di otak yang berkaitan dengan pembelajaran penguatan (reinforcement learning) dan perbaikan kesalahan juga aktif. Semakin aktif area - area tersebut, maka seseorang akan semakin mencari kelegaan dan kenyamanan.
Ternyata, manusia punya kecenderungan untuk 'ikut - ikutan', untuk bisa fit in ke dalam kelompok, dan hal itu dilakukan supaya mereka lega dan nyaman, terbebas dari rasa insecure.
Tapi, bukankah melelahkan jika kita terus berusaha biar jadi sama? Biar jadi sesuai dengan standar?
Kita manusia diciptakan berbeda - beda, secara fisik maupun secara sifat. Begitu juga halnya dengan kekuatan, kelemahan, bakat, minat, kemampuan. Tidak ada yang 100% sama, anak kembar sekalipun. Yang ada mungkin adalah 'yang mencoba menjadi sama'. Wajar jika kita berbeda, dan perbedaan itu harusnya dirayakan, bukannya membuat kita merasa aneh dan insecure dengan diri kita.
Coba bayangkan kalau di dunia ini semuanya sama,
it wil be a boring, scary world, isn't?
Menjadi berbeda memang bisa bikin kita insecure, that's how our brain deal with being different. Yang penting, ingat bahwa menjadi berbeda itu tidak apa - apa, karena nggak semuanya harus sesuai dengan yang katanya 'memang harusnya begitu'.
'Till we meet again!
Comments
Post a Comment