Gimana Kalau..?
Lokasi kantor tempat aku bekerja lumayan dekat dengan rumahku, jadi biasanya aku berangkat dan pulang kerja naik ojek online. Suatu hari ketika dalam perjalanan pulang ke rumah, mungkin driver ojek onlne yang aku pesan kurang mengenal daerah sekitar dan akhirnya dia lewat jalan memutar yang lebih jauh dibandingkan dengan jalan yang biasa aku lewati. Di perjalanan aku berpikir "gimana kalau tadi drivernya lewat jalan yang satunya, pasti aku udah sampai di rumah."
karir,
pendidikan,
makanan apa yang akan kita makan,
dst.
Buah dari pilihan yang kita buat adalah tidak terlaksananya opsi lainnya yang tadinya bersanding dengan opsi yang kita ambil (atau dalam istilah ekonominya disebut opportunity cost).
Sedikit ilustrasinya misal kita dihadapkan pada pilihan makan nasi goreng atau nasi uduk sebagai menu sarapan.
Jika kita memilih makan nasi goreng maka konsekuensinya adalah kita tidak memakan nasi uduk.
Namun, terkadang banyaknya pilihan yang kita punya bukannya memerdekakan kita, tetapi memenjarakan kita dengan berbagai jerat "gimana kalau?".
Jika kita makan nasi goreng untuk sarapan dan bukan makan nasi uduk, mungkin ada dari sebagian kita yang menyesal dengan rasa nasi goreng yang kita makan dan berpikir :
"gimana kalau tadi aku makan nasi uduk?"
Mungkin terdengar sepele jika hanya dalam kasus pilihan menu untuk sarapan, tetapi tidak jarang hal yang serupa juga terjadi dalam pilihan hidup kita yang lain, yang lebih krusial untuk kehidupan kita.
"Gimana kalau aku kuliah di jurusan A dan bukan jurusan B?".
"Gimana kalau aku wirausaha dan bukan jadi pekerja kantoran?"
"Gimana kalau aku gak kuliah tapi langsung kerja?"
"Gimana kalau...?"
Di antara banyak pilihan yang membingungkan kita, jangan sampai hal yang kita tidak pilih justru ikut memenjarakan kita dengan berbagai kemungkinan yang kita bayangkan di kepala.
Apalagi jika hal tersebut memang sesuatu yang tidak bisa kita ubah. Ingatlah jika opportunity cost tersebut, "gimana kalau" tersebut, tidak punya kuasa lagi di dalam hidup yang sedang kita jalani ini.
Pilihan yang kita ambil - dengan segala konsekuensi dan manfaatnya - jalankan dengan penuh tanggung jawab. Dipikirkan pun tidak akan mengubah keadaan, mengubah hal yang sudah terjadi akibat pilihan yang kita ambil, bukan?
Bagaimana jika hal yang kita ratapi dengan "gimana kalau" tadi bukan sepenuhnya akibat dari pilihan sadar kita antara beberapa opsi tetapi hal yang terjadi di luar kuasa kita?
Intinya sama, lepaskan, ikhlaskan.
Hasil dari pilihan kita saja kita tidak punya daya untuk mengubahnya, apalagi hal yang di luar kuasa kita?
Lain lagi dengan hal yang ternyata kita masih diberi kesempatan untuk bertindak, untuk berusaha mengubah.
Maka, berpikir terlebih dahulu konsekuensi dan manfaatnya, lalu tegaskan hati untuk bertindak,
dan ingat,
jangan sampai
"gimana kalau...?"
'Till we meet again!
Comments
Post a Comment