3 Hal yang Aku Pelajari Setelah Membaca Berani Tidak Disukai

Baru - baru ini aku baca ulang buku Berani Tidak Disukai (The Courage to be Disliked) karya Ichiro Kisimi dan Fumitake Koga. Untuk yang nggak tahu atau belum pernah baca buku Berani Tidak Disukai, secara garis besar buku ini berisi diskusi antara seorang pemuda dan seorang filsuf mengenai bagaimana cara mencapai kebahagiaan dalam hidup, dilihat dari teori psikologi Adler. Poin utama dari buku ini adalah tentang hubungan interpersonal, yang merupakan sumber segala permasalahan (menurut Adler) tapi juga sumber kebahagiaan terbesar.

Setelah baca (lagi) buku ini, ada beberapa hal yang jadi bahan renungan aku pribadi soal kehidupan, apalagi soal hubungan interpersonal. Mungkin banyak juga di antara kita yang struggle dengan masalah hubungan ya. Bukan cuma hubungan dengan manusia lain (misalnya hubungan keluarga, pertemanan, atau hubungan romantis) tapi juga hubungan kita dengan diri kita sendiri. 

Nah, kali ini aku mau share tiga poin dari buku Berani Tidak Disukai yang jadi bahan renungan aku soal hidup, hubungan dengan diri sendiri, dan juga hubungan dengan orang lain. Tanpa berlama - lama lagi, yuk kita lihat satu per satu!

1. Kita tidak ditentukan oleh pengalaman kita, tetapi dari makna apa yang kita berikan kepada pengalaman tersebut

Seringkali kita berpikir kalau apa yang kita alami di masa lalu itu adalah apa yang membentuk kita. Padahal yang membentuk kita bukanlah kejadian yang terjadi pada kita, tetapi pandangan subyektif kita terhadap kejadian itu.

Poin menyenangkannya ini di subyektivitasnya. Kita bebas mau kasih makna apa untuk kejadian yang kita alami. Good or bad, you gotta choose.

Poin ini mengingatkan aku sama kutipan yang aku suka dari buku The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin Sunim berikut

"...The world we see is not the entire universe but a limited one that our mind cares about. However, to our minds, that small world is the entire universe."


2. Semua masalah adalah tentang hubungan interpersonal


Berinteraksi dengan orang lain memang ada seninya. Ada orang yang cocok sama kita tapi ada juga orang yang rasanya kok bikin kesel aja. Tapi, sebagai makhluk sosial kita nggak mungkin bisa hidup sendiri. Kita tetap butuh orang lain supaya kita bisa enjoy hidup di dunia ini.

Nah, kira - kira apa sih yang bikin hubungan kita dengan orang lain itu sulit?

Jawabannya : rasa takut untuk dibenci

Kita takut akan pandangan orang lain terhadap kita. Kita takut dijudge. Kita takut ditinggalin kalau ternyata kita tidak sempurna.

Padahal, tau nggak, kita nggak bisa kontrol apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita. That's their job. Tugas kita hanya bertindak sesuai apa yang menurut kita benar, sesuai dengan diri kita sendiri, tanpa harus terikat dengan ekspektasi orang lain terhadap kita.

Walaupun dibilang semua masalah adalah tentang hubungan interpersonal, hubungan dengan diri kita sendiri juga penting, dan seringkali kita juga struggle di hal ini. Bukan hanya kita takut orang lain gak menerima kita dengan kekurangan kita, tapi kita sendiri juga gak bisa menerima kekurangan kita tersebut. Tapi perlu diingat kalau menerima kekurangan bukan berarti kita masa bodoh dengan sisi negatif kita, tapi kita berusaha menjadi pribadi lebih baik tanpa membenci diri kita sendiri.

3. Kebahagiaan adalah merasa berharga dan berguna untuk masyarakat

Coba ingat - ingat ketika kita habis membantu orang lain, kira - kira perasaan apa yang kita rasakan? Pasti ada rasa bangga dan kepuasaan tersendiri ya. Kita merasa kalau kita bisa berkontribusi kepada orang lain, walaupun hanya hal kecil. 

Ketika kita bisa menerima diri dan merasa kalau apa yang kita lakukan bermanfaat untuk orang lain, itulah kebahagiaan, tidak peduli sekecil apapun tindakan kita. Dan, karena dunia yang kita hidupi adalah dunia subyektif menurut pandangan kita sendiri, penilaian berguna/tidaknya tindakan kita juga adalah penilaian subyektif kita, bukan berdasarkan pandangan orang lain. Setelah tau hal ini rasanya jadi lebih hopeful buat meraih kebahagiaan gak sih?


Selain tiga poin yang jadi bahan renunganku di atas, ada banyak hal menarik lain soal bagaimana teori psikologi Adler memandang hidup dan permasalahannya. Tapi, pesan inti yang ingin diberikan yaitu soal keberanian. Dalam hidup kita harus memiliki keberanian. Untuk bisa bahagia kita harus berani memilih untuk bahagia, berani memilih pola pikir yang sesuai dengan apa yang kita inginkan, serta berani mengubah kebiasaan yang menghambat kita menuju tujuan kita.

Kalau aku pribadi, mungkin yang bikin aku struggle adalah aku karena kurangnya keberanian itu sendiri. Misalnya, aku sering banget ngerasa males nulis, padahal aku suka nulis. Setelah aku pikir - pikir lagi, alasan aku males nulis adalah karena aku takut tulisanku gak sebagus yang aku mau (hello my perfectionism!) dan juga aku takut proses nulisnya bakal lama dan aku jadi spend waktu berjam - jam. Aku gak berani bertindak karena aku udah takut duluan sama hasilnya, ataupun sama prosesnya. 

Karena keberanian adalah koentji, aku lagi berusaha supaya aku bisa take the first step dan mulai, terlepas dari prosesnya lama kah, atau hasilnya jelek kah. Nulis post ini juga setelah bergumul cukup lama mau nulis gak ya, dan pas mulai nulis juga mikir 'tuh kan udah lama gak nulis jadinya kaku buat mau nulis'. And in the end, here is this post that you all read now.

Padahal waktu kecil dulu rasanya kata 'berani' itu biasa aja ya, nggak lebih dari kata sifat antonimnya takut. Tapi sekarang aku jadi merasa kata ini sangat powerful, dan punya makna yang lebih dari sekedar 'tidak takut', tapi juga ada makna penerimaan dan perjuangan di sana : berani menerima ketakutan, serta berjuang melawan ketakutan tersebut. Aku harap kita semua bisa menjadi orang yang lebih berani dalam menjalani hidup kita.

'Till we meet again!

Comments