'My Liberation Notes' : Life Crisis Isn't Only in Your Quarter Life
Kalian pasti udah nggak asing lagi dengan istilah quarter life crisis. Atau mungkin kalian lagi mengalaminya?
Kayaknya di jaman now kayak gini hampir semua orang bakal bilang kalau mereka pernah/sedang mengalami quarter life crisis ya. Menurutku sih hal ini nggak cuma dirasakan sama milenial aja, tapi generasi lain di atasnya seperti Gen Y atau bahkan baby boomers pun kayaknya juga merasakan yang namanya quarter life crisis pada masanya.
Ternyata, yang namanya 'krisis kehidupan' nggak cuma dialami sama yang usia 20an sampe awal 30an. Di usia berapapun seseorang pasti akan mengalami fase di mana mereka merasa ragu dan bingung dengan hidupnya. Hal ini aku sadari setelah aku nonton drama Korea berjudul 'My Liberation Notes' (나의 해방일지).
'My Liberation Notes' bercerita tentang dilema yang dialami tiga orang kakak beradik di tengah rutinitas hidupnya yang membosankan. Si kakak pertama yang hampir berusia 40 tahun sedang bergumul dengan masalah percintaan, si kakak kedua yang merasa rendah diri karena tinggal di daerah pinggiran kota, dan si anak bungsu yang lelah dengan hubungan interpersonal yang penuh basa basi dan tidak tulus.
(Dari ketiga kakak beradik itu aku merasa kalau apa yang mereka alami itu kok relate banget sama aku 😂 Mungkin karena apa yang mereka rasakan adalah kekhawatiran universal yang dialami sama semua orang. Nggak heran kalau setiap membicarakan 'My Liberation Notes' yang pertama kali terpikirkan adalah kata 'relatable')
Even Gong Yoo, si ahjussi kesukaan kita semua itu, recommended this drama!
***
Dari 'My Liberation Notes' aku belajar kalau dalam setiap tahapan hidup manusia, berapa pun usianya, pasti akan ada yang namanya dilema. Setiap dari kita pasti punya harapan tentang hidup yang baik versi kita, tetapi terkadang justru harapan tersebut yang membuat hidup kita terasa tidak menyenangkan, misalnya ketika harapan kita tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Ketika berusia 20an mungkin topik kekhawatiran kita adalah 'apa yang harus dilakukan setelah lulus sekolah/kuliah'. Setelah itu di usia 30an kita khawatir dengan masalah percintaan dan membangun keluarga. Topik kekhawatiran berganti seiring bertambahnya usia. We never really solved our quarter life crisis. We just move on to another crisis worth to deal with.
Sekarang usiaku pertengahan 20an. I have dealt with my so called quarter life crisis for 4 years. Dan selama 4 tahun ini topik yang jadi main character di krisis aku berubah - ubah. Ibarat lagi ujian di sekolah, kelar satu soal terus lanjut ke soal lainnya. Bisa lebih gampang, bisa lebih susah, tergantung pembuat soalnya. Bisa juga di nomor sekian tau - tau ketemu lagi soal dengan topik yang sama dengan topik di awal. Namanya juga masih satu materi ujian (baca : ujian kehidupan).
Tapi satu hal yang aku tahu. Ketika selesai dengan satu topik dan move on ke topik lainnya, I am a new person. With a new knowledge and new set of wisdom.
Oh iya, dosenku dulu pernah ngomong gini :
cobaan itu menjatuhkan, ujian itu menaikkan.
Jadi ingat, ketika kita lagi dalam krisis di hidup ini, kita nggak akan jatuh, tapi kita akan naik ke level yang lebih tinggi lagi.
Lucunya, harapan yang bisa bikin kita kecewa kalau nggak terlaksana, justru juga jadi bahan bakar yang bikin kita semangat buat meraihnya. It's really up to us to decide.
'Till we meet again!
Comments
Post a Comment