Everything Has Changed : Sudah Berubah Hari Ini?
Sekitar tiga tahun yang lalu, di suatu siang saat kelas Dasar - Dasar Manajemen, dosenku mengajukan pertanyaan ini di kelas :
Kapan terakhir kali kalian melakukan perubahan dalam hidup kalian?
Kurang lebih materi yang diajarkan tersebut adalah tentang Organizational Change atau perubahan dalam organisasi. Jadi, ada dua jenis perubahan yaitu reactive change (melakukan perubahan sebagai respon terhadap permasalahan ataupun peluang yang muncul) dan proactive change (membuat perubahan yang sudah dipikirkan dengan matang sebelumnya sebagai antisipasi dari masalah ataupun peluang yang mungkin akan muncul). Lebih gampangnya lagi kalau reactive change itu dilakukan setelah terjadi sesuatu sedangkan proactive change itu dilakukan sebelum terjadi sesuatu. Lumayan ya kalian jadi belajar soal ilmu Manajemen di post ini hehe. Yang aku suka dari ilmu Manajemen adalah, walaupun mostly ilmu itu diterapkan untuk bisnis ataupun organisasi, tapi kita dapat menerapkan ilmu - ilmu Manajemen di dalam kehidupan kita sehari - hari. After all, we do manage our life, right? Malah terkadang, teori - teori simpel yang ada di ilmu Manajemen bisa juga kita gunakan untuk evaluasi diri kita, misalnya kayak pertanyaan sederhana soal perubahan tadi.
Kembali ke pertanyaan tadi, ketika tiga tahun lalu aku mendengar pertanyaan itu, pikiran aku kembali ke masa - masa aku sekolah (SD dan SMP), di mana di masa - masa ini aku merasa perubahan yang cukup fundamental dalam diriku, yang terbawa sampai ke saat ini. Saat ini, aku juga merasakan ada beberapa perubahan yang terjadi di dalam diriku, terutama yang berkaitan dengan my inner self. Aku percaya jika kehidupan kita itu dinamis, selalu bergerak dan pasti akan ada perubahan - perubahan yang terjadi di dalam diri kita. Jika kita tidak berubah, maka that means we don't live our life, we didn't learn from our mistakes. Tentu saja perubahan yang terjadi di dalam hidup kita bisa positif atau negatif ya, tapi aku harap perubahan yang ada tersebut membuat kita menjadi lebih positif dan lebih mengenal siapa diri kita. Remember my mantra : knowing ourselves is the greatest joy we could have in our life.
Sekarang, aku mau berbagi sedikit perubahan - perubahan apa saja yang remarkable dalam hidup aku, yang membentuk siapa aku sekarang, dan lesson learned apa yang aku ambil dari setiap perubahan tersebut. This list include the moment when I started to know myself better, because that also count as life changing experience for me. So, shall we start?
1. Becoming more of a giving person --> SD
Kejadiannya udah lama banget, waktu aku kelas 4 atau 5 SD kalau nggak salah. Jadi waktu itu ceritanya lagi mau ngoreksi ulangan atau PR gitu, dan biasanya guru aku itu punya sistem untuk murid - murid saling koreksi jawaban punya temen lainnya (jadi koreksinya dituker gitu antar temen). Waktu aku mau tuker jawabanku sama punya temenku, temenku pada nggak mau tukeran sama aku (kayaknya udah beberapa kali aku minta nuker sama temn yang berbeda - beda tapi pada nggak mau. Waktu itu karena masih kecil respon aku ya nangis (kalo udah gede kayaknya sebodo amat yaudah koreksi aja sendiri WKWK). Terus aku inget guruku bilang kalau temen - temenku pada nggak mau tukeran sama aku karena aku pelit. Jujur aku udah agak lupa sama gimana sikap aku dulu in regard to that statement by my teacher, karena aku merasa perubahan aku setelah itu udah kayak jadi habit sampai saat ini which rooted deeply in me.
Lesson learned :
Semenjak saat itu aku jadi lebih mau terbuka untuk berbagi sama temen aku,misalnya mau kasih pinjem buku catatan dsb, dan itu kebawa sampai sekarang. Bahkan terkadang sadly aku jadi tipe orang yang sulit bilang 'nggak' ke orang lain. Jangan ditiru ya, karena kadang kita harus bisa nolak untuk kebaikan diri kita sendiri. Paling untuk mengatasinya kalau aku sendiri sekarang mencoba menolak secara halus kalau memang I can't do something for them. Tapi kalau untuk urusan yang memang bertentangan sama prinsip aku atau doing something unapropriate ya pasti aku tolak.
2. The start of my phlegmatic side --> SMP
Waktu aku SMP, pernah ada kejadian yang cukup drama yang cukup mempengaruhi the way I act and think. Kejadiannya kurang lebih kayaknya dialami sama anak - anak abg yang masih labil dan sepele. Namanya juga masih abg, masih belum dewasa secara pemikiran.
Lesson learned :
Karena kejadian itu aku jadi tipe orang yang menghindari konflik. Aku lebih pilih untuk menghindari konflik dengan orang lain karena cuma akan bikin aku capek dan in the end it hurt me. Sampai sekarang dampaknya ke pribadi aku adalah ketika ada seseorang yang menyakiti aku, aku akan bertindak di antara dua pilihan ini :
1) Kalau orangnya gak deket sama aku aku akan sebodo amat, not take it too seriously, dan
2) Kalau orangnya deket sama aku aku akan coba meredam emosiku sendiri, because I don't want to be hurt and hurt that person.
Untuk pilihan kedua ini sebenarnya agak kurang recommended buat sebagian orang ya. Karena kalau kalian terlalu lama meredam emosi kalian, lama - lama emosi itu akan menumpuk dan akhirnya meledak. Kalian juga akan capek sendiri sebenarnya, kecuali kalau kalian cepet lupa sama apa yang bikin kalian emosi (kayak aku), tapi I still recommend you not to keep your emotions alone. Aku juga lagi belajar untuk lebih terbuka kepada orang lain mengenai apa yang aku rasakan. Emang berat awalnya, tapi coba kalian sharing kepada orang yang kalian percaya sedikit demi sedikit. Kalian bisa baca mengenai pentingnya speak up di post ini.
3. I found what I like (read : my passion) --> Tahun terakhir SMP dan semester awal kuliah
Ketika kelas 9, aku inget ada tugas Bahasa Indonesia untuk membuat resensi buku. Waktu itu yang aku resensi adalah komik Detective Conan dan aku inget ketika membuat resensi itulah aku pertama kali menggunakan pemilihan kata yang baik, yang lebih majalah-able, dan bukan cuma karangan sederhana kayak tugas anak SMP biasanya (at least kayak karangan aku waktu kelas 7). Aku mulai berani menggunakan pemilihan kata kiasan, kayak kata - kata yang biasa aku baca di majalah (makanya aku bilang lebih majalah-able). Kalau diingat kembali ke kelas 7, waktu itu aku bikin karangan yaudah kayak bikin laporan aja gitu, nggak ada pemilihan kata yang menarik. Di saat inilah aku merasa kalau aku punya kemampuan untuk menulis. Fast forward ke SMA, aku mulai percaya diri dengan kemampuanku menulis dan aku sempat ikut lomba menulis di sekolah (dan aku jadi juara 1). Aku juga ikut kegiatan majalah sekolah dan menjadi salah satu staf redaksi yang menulis artikel untuk majalah tersebut. Aku juga jadi menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia (yang ironis, aku sebagai anak IPA ketika UN paling tinggi adalah nilai Bahasa Indonesia, sementara mata pelajaran yang lain cuma 7).
Aku termasuk orang yang anget - anget tai ayam (read : gampang suka sama sesuatu tapi cepet bosen), tapi untuk urusan menulis, I know this is my passion since I've been doing it for years. Walaupun ada masa - masa di mana aku nggak nulis, tapi ketika aku menulis aku menemukan kebahagiaan dan semacan stress relief yang aku nggak temukan di kegiatan lainnya. Dan aku percaya, passion adalah sesuatu yang bring joy and happines ketika kita melakukannya, dan something we will not be bored of, because passion comes from the heart (and we will never be bored of something our heart loves, right?)
Selain pengalaman ketika kelas 9 itu, aku juga punya pengalaman lain di mana aku menemukan hal lainnya yang aku suka ketika aku kuliah. Tepatnya di semester awal kuliah. Kalian yang pernah baca post ini (yang belum tahu boleh dicek!) pasti tahu hal lain yang aku maksud itu.
Lesson learned :
Keep doing what you like. Kalian yang belum tahu apa yang kalian suka, atau termasuk orang yang warm warm chicken poop juga kayak aku, pasti suatu saat akan ketemu kok what your heart loves. Kalian akan tahu dengan sendirinya apa yang hati kalian suka ketika kalian enjoy ngelakuan hal tersebut dan kalian merasakan ada suatu 'sensasi' tersendiri kalau kalian melakukan hal tersebut. Ikut kompetisi atau kegiatan apapun yang berkaitan dengan hal yang kalian suka itu juga menurutku menyenangkan, lho. Kalian bisa lebih mengasah kemampuan kalian dan ketika kalian bisa berprestasi di bidang yang kalian suka itu akan ada sense of accomplishment yang pasti akan bikin kalian lebih semangat untuk terus berkarya. Semangat!
4. Discovering what is self-love, a crazy journey to finally start loving myself --> tahun 2015
Di tahun 2015, aku sempat mengalami masa - masa down beberapa saat. Ketika down tersebut aku membaca buku berjudul 'Yang Aku Tahu Dengan Pasti' oleh Oprah Winfrey. Buku itu berisi pandangan - pandangan Oprah Winfrey mengenai beberapa aspek dalam hidup yang krusial dalam diri dan hidup seseorang, yang berdasarkan atas pengalaman hidupnya. Ada satu bagian di bab 'Keterhubungan' di buku tersebut yang bikin aku sadar dan bangkit dari masa downku. Ada pernyataan yang berbunyi
"Yang aku tahu dengan pasti, tidak adanya intimasi bukanlah karena berjarak dengan orang lain; tapi karena menyepelekan diri sendiri. Memang benar bahwa kita semua membutuhkan sejenis relasi yang memperkaya dan memelihara kita. Tapi juga benar bahwa jika Anda mencari seseorang untuk menyembuhkan dan melengkapi Anda - untuk memutus suara di dalam diri Anda yang selalu berkata kau tidak berharga untuk apapun - Anda hanya membuang - buang waktu. Mengapa? Karena jika Anda belum mengetahui bahwa Anda berharga, tak ada yang bisa dikatakan oleh teman, keluarga, atau pasangan hidup untuk meyakinkan bahwa Anda berharga."
Yang Aku Tahu Dengan Pasti - Oprah Winfey
Lesson learned :
Aku mulai sadar kalau masalah terbesarku sebenarnya adalah not loving myself, thinking that I am not worthy enough. Aku jadi lebih aware tentang itu. Perjalanan dalam aku berjuang mencintai diriku sendiri juga nggak mudah. Ada saat - saat di mana aku pikir aku sudah mencintai diriku sendiri namun ternyata kenyataannya nggak. Aku pernah baca di salah satu artikel di internet (tapi aku lupa di mana) yang mengatakan bahwa "self love is a process". Dari situ aku sadar bahwa mencintai diri sendiri bukanlah seperti sebuah momen di mana kalian bilang ke diri sendiri kalau you love yourself terus udah gitu aja. Memang self-love akan muncul dalam suatu momen ketika kalian sadar kalian berharga, kalian cantik, kalian cukup. Tapi sama seperti kalian mencintai orang lain yang butuh usaha, cinta kalian ke diri sendiri juga perlu dijaga dan kalian harus berusaha untuk mencintai diri kalian. Aku sendiri baru mulai benar - benar ketemu momen itu belakangan ini dan I still work on it.
Kira - kira itulah apa - apa saja perubahan yang terjadi dalam hidup aku yang bisa aku bagi ke kalian. Apapun yang terjadi dalam hidup sebenarnya adalah hasil dari pembelajaran, dan aku yang sekarang ini, dengan segala macam sifat dan karakterku, adalah hasil dari bertahun - tahun belajar dari pengalaman hidupku. Kalian tentu juga sama. Siapa diri kalian sekarang terbentuk dari pengalaman - pengalaman kalian di masa lalu, yang kalian petik pelajarannya. Aku percaya kalau selalu ada cerita di balik terjadinya sesuatu, dan inilah yang membentuk aku sekarang ini. Ingat, our life is a learning process, so learn from it.
'Till we meet again!
Comments
Post a Comment