When Things Didn't Go As We Planned
"Manusia bisa berencana tapi Tuhan lah yang menentukan"
Pernah gak sih kalian ngerasa udah membuat planning yang sempurna, tapi ternyata karena satu dan lain hal planning kalian itu tidak bisa terlaksana?
***
Dalam hidup ini pasti ada banyak hal yang kita lakukan, entah itu hal yang wajib kita kerjakan (pekerjaan kantor, tugas sekolah, dsb) ataupun hal yang ingin kita kerjakan. Karena waktu dan tenaga yang kita punya terbatas, tentu kita harus pintar - pintar mengatur apa saja yang akan kita kerjakan supaya harapannya kita bisa menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan kita.
Biasanya orang akan membuat 'to do list', berupa daftar hal - hal apa saja yang akan/harus mereka lakukan, yang akan digunakan sebagai pedoman dalam beraktivitas. Yang menarik, to do list ini kadang dijadikan juga sebagai pengukur produktivitas seseorang, di mana semakin banyak pekerjaan dalam daftar yang dicoret (sebagai tanda sudah selesai dikerjakan), maka artinya dia semakin produktif.
To do list yang orang - orang buat juga tidak terbatas pada hal yang dikerjakan harian, tapi bisa juga berupa hal - hal yang ingin dicapai dalam rentang waktu tertentu (biasanya cukup panjang), contohnya kayak resolusi yang kita buat tiap menyambut tahun baru. Ketika menyambut tahun yang baru, gak jarang orang akan menulis hal - hal apa yang mereka ingin raih di tahun yang baru tersebut.
Kira - kira, kenapa ya orang suka membuat list kayak gitu? Atau, lebih tepatnya, kenapa ya orang cenderung melakukan planning?
Menurut psikolog dan penulis Dr David Cohen, ada 3 alasan kenapa orang suka membuat to do list :
- untuk mengurangi rasa gelisah
- memberikan struktur/rencana yang bisa kita ikuti
- membantu kita melihat hal - hal apa saya yang telah kita raih
Aku sendiri biasanya suka membuat to do list, terutama berkaitan dengan pekerjaan. Biasanya aku buat list per hari, di satu hari tersebut ada apa aja deadline yang harus aku selesaikan. Mungkin untuk beberapa orang biasanya to do listnya di atur berdasarkan skala prioritas, dari kerjaan yang urgent sampai yang tidak urgent. Tapi kalau aku sih gak disusun seperti itu, betul - betul aku list sesuai apa dulu yang muncul dalam pikiran aku.
Biasanya dari list pekerjaan yang harus aku selesaikan, aku bagi sesuai time frame, mana yang akan aku kerjakan pagi sebelum makan siang dan mana yang akan aku kerjakan setelah makan siang. Aku udah buat planning nih di kepala, kalau pagi aku bisa selesaikan misal 3 pekerjaan, nanti siang aku bakal bisa lebih santai. It looked like a perfect plan for me. Tapi, di sinilah awal permasalahannya.
Belakangan ini sering sekali terjadi : hal yang sudah aku rencanakan, yang aku pikir akan berjalan mulus kalau semuanya sesuai planning aku, ternyata ujung - ujungnya harus gagal. Terutama dalam hal pekerjaan. Rencana yang sudah aku buat untuk pekerjaanku, tau - tau tidak berjalan sesuai yang aku harapkan. Aku suka kesel dan mikir :
"Ah kenapa sih gak sesuai rencana? Kalau sesuai kan nanti harusnya gini..."
Akhirnya, walaupun tidak sesuai dengan planning yang sudah aku buat, aku tetap harus bisa beradaptasi dengan kondisi yang ada supaya pekerjaan bisa selesai.
Sebenarnya aku sendiri bukan tipe yang detail oriented banget dalam urusan membuat planning seperti to do list ini. Dalam membuat planning apapun aku hanya selalu membayangkan the big picture, misalnya apa saja yang akan aku lakukan, tapi tidak sampai aku breakdown mendetail lagi. Aku membuat planning lebih ke untuk sedikit mengurangi ketidakpastian, supaya aku punya gambaran apa yang akan aku hadapi/lakukan, atau dengan kata lain untuk mengurangi kegelisahan, seperti kata Dr David Cohen tadi.
*Tapi, sebenarnya pendekatanku dalam membuat planning (yang tiidak detail itu) walaupun mungkin lebih less stress jika tidak berjalan lancar, gak recommended dalam konteks membuat planning untuk goals ataupun resolusi, lho*
Dengan 'rusaknya' planning yang aku buat, otomatis lumayan menimbulkan kegelisahan dalam diriku. Hal yang tadinya lumayan pasti (jika berjalan sesuai planning), tiba - tiba jadi tidak pasti. Tapi, untungnya karena planning yang aku buat tidak detail, jadi sebenarnya masih ada celah untuk 'diotak - atik'. Bisa dibilang planning yang aku buat lumayan fleksibel sehingga aku lumayan mudah untuk beradaptasi kalau tau - tau things don't go as I planned. Tapi, ada juga orang yang ketika sudah membuat planning dan tidak berjalan sesuai rencana, otaknya langsung ngeblank atau malah jadi panik, contohnya kayak cerita guru SMAku. Katanya, kalau sudah membuat rencana dan tiba - tiba berantakan, beliau akan pusing banget. Mungkin karena beliau tipe orang yang membuat planning dengan begitu mendetail sehingga jadi tidak fleksibel.
Harus diakui segala hal yang terjadi di dunia ini terdiri dari hal yang bisa kita atur dan hal yang tidak bisa kita atur. Kita mungkin berpikir kita punya kuasa penuh atas hidup kita dan apa yang kita lakukan. Kita merasa kalau semuanya akan berjalan sesuai yang kita harapkan, sesuai rencana kita. After all, this is our own life, right? Padahal, mau sesempurna apapun rencana yang sudah kita buat, tetap saja pasti ada variabel - variabel lain di luar kontrol kita yang bisa menggeser rencana kita. Jika kita terlalu fokus pada hal - hal yang tidak bisa kita ubah, kita hanya akan menambah beban dalam hidup kita.
Dari pengalaman gagalnya planning yang aku buat, aku seperti diingatkan kalau sesempurna apapun aku berencana, Tuhan pasti mempunyai rencana yang lebih baik untuk aku. Aku ini orangnya mudah gelisah, dan seperti yang tadi aku katakan, tujuanku untuk membuat planning adalah untuk mengurangi kegelisahanku. Mungkin, dengan tidak berjalannya rencana yang sudah aku susun, aku diajarkan untuk tidak selalu fokus pada kegelisahanku, karena selama aku mau beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, aku pasti bisa melaluinya. I will go through it.
Kalau dipikir - pikir, namanya hidup pasti penuh ketidakpastian ya. Kita hidup setiap hari tanpa tahu apa yang akan terjadi dalam setiap detik, menit, jam yang akan kita lalui. Kita berpikir kalau kita tahu pasti apa yang akan kita hadapi setiap harinya : bangun tidur, makan, sekolah/bekerja, dan seterusnya. Tapi, kita lupa kalau dalam setiap detik waktu kita di dunia ini, ada hal - hal lain di luar kontrol kita yang punya pengaruh ke dalam hidup kita. Kalau kita berusaha membuat segalanya pasti dan sesuai apa yang kita mau, kita hanya akan kecewa, karena balik lagi satu - satunya yang pasti di dalam hidup ini ya ketidakpastian itu sendiri.
Pesan aku untuk diriku sendiri dan kalian semua :
Membuat planning itu bagus dan bisa jadi tools yang berguna, tapi jangan terlalu terpaku sama rencana yang kita buat dan jangan jadi stres kalau rencana kita gagal. Ingat kalau ada hal yang bisa kita kontrol dan tidak bisa kita kontrol. Only when we remember that, we will be able to calm down and moving on.
'Till we meet again!
Comments
Post a Comment