Writing Got (Me) Better

Ada sebuah lagu dari penyanyi Ailee yang berjudul 'Singing Got Better' (노래가 늘었어). Lagu ini bercerita tentang seorang wanita yang melupakan mimpinya untuk menjadi penyanyi saat dia menjalin hubungan dengan kekasihnya. Lalu, ketika hubungan itu berakhir, melalui lukanya itu dia teringat kembali mimpinya untuk menjadi penyanyi bahkan dia bernyanyi dengan lebih baik lagi daripada sebelumnya. Penggalan liriknya begini :

My singing got better after I breaking up with you
After living crazily with music, all of the song lyrics
Seemed like my story so I sang them to death
Little by little, slowly, my tears dried

                                               Source : colorcodedlyrics.com


Dari lagu itu kita belajar kalau kesedihan bisa membuat kita terpuruk, tapi bisa juga membuat kita menjadi lebih baik sebelumnya. Paradoks banget ya, but I guess life is indeed a paradox.

Ngomong - ngomong, aku juga punya cerita yang agak mirip sama lagu Ailee tadi. Bukan, bukan soal percintaanya 🤣, tapi lebih ke 'pain transforms me to a better state'. 


Jadi begini ceritanya...


Seperti aku cerita di post ini, aku pernah berada di kondisi yang gak enak buat aku secara pribadi. Kurang lebih aku terjebak di keadaan ini udah hampir dua tahun. To make it simpler intinya aku merasa stres. Tapi stres ini makin parah di tahun 2020 pertengahan. Dan kondisi mental emang bener ada hubungannya dengan fisik, karena aku juga jadi sering sakit (sakit kepala, sakit perut). Padahal dulu aku itungannya jarang sakit orangnya. 

Lalu fast forward ke tahun 2021, waktu itu aku lagi liat - liat video di Youtube, lalu muncul video dari seorang youtuber yang dulu aku sering ikutin tapi udah lama gak liat.

*disclaimer : ini bukan cerita tentang aku nonton video terus tiba - tiba secara ajaib aku gak stres lagi ya 🤣 it's not really like that tbh

Jadi, youtuber yang aku maksud itu namanya Rowena Tsai. Videonya lebih ke tentang self - improvement gitu. Cuma kayaknya yang waktu itu aku nonton bukan soal self - improvement deh tapi soal dia kenalin pacarnya 🤣 

Nah, dari situ aku jadi inget lagi tuh 'oh iya dulu gue suka nonton video self - improvement gini ya', terus mulai deh kepikiran jadi pengen nulis random thoughts lagi di blog. Beberapa waktu yang lalu emang aku lebih sering nulis tulisan random thoughts di Instagram, bukan di blog. Terus akhirnya mulailah aku melakukan research tentang topik yang mau aku tulis.

Ketika melakukan research itu, aku ketemu kutipan dari buku Paul Dolan yang berjudul 'Happiness by Design' berikut ini :

Your happiness is determined by how you allocate your attention. What you attend to drives your behavior and it determines your happiness.

The scarcity of attentional resources means that you must consider how you can make and facilitate better decisions about what to pay attention to and in what ways. If you are not as happy as you could be, then you must be misallocating your attention.

Terus aku baca wawancara dengan Shawn Achor, penulis buku 'The Happiness Advantage' dan 'Big Potential'. Di sana diceritakan ketika Shawn bekerja di Harvard sebagai pengawas yang membantu mahasiswa baru beradaptasi, mahasiswa yang menghabiskan waktu dengan mengurung diri dan belajar terus - menerus justru bukanlah mahasiswa yang performancenya terbaik, melainkan merekalah mahasiswa yang burned out dan justru ingin pindah kampus.

Begini kata Shawn :

The people who survives stress the best are the ones who actually increase their social investments in the middle of stress, which is the opposite of what most of us do.

Terkadang ketika kita sedang stres, misalnya karena lagi banyak kerjaan, biasanya kita berpikir kalau kita harus invest more time and effort in that task so that it will finish faster. Kita jadi lupa makan dan lupa istirahat karena kita fokus untuk selesain pekerjaan kita. Mindset kita itu semakin cepat selesai maka kita bisa istirahat. Ternyata eh ternyata, menurut Shawn Achor, hal ini justru bikin kita semakin stres. Pendekatannya yang sebaiknya kita gunakan dalam menghadapi stres justru harusnya dengan meningkatkan interaksi sosial kita dengan orang lain. 

Dari dua hal yang aku baca itu, aku sadar kalau there is a way to make my condition better. There is a way for me to be happy and not stress anymore.

*Stres memang gak sepenuhnya jelek, justru ada stres yang bisa meningkatkan performance kita. Contohnya ada di artikel ini. Tapi kalau di aku stres yang aku rasakan sudah justru menggangu kondisiku seperti aku ceritakan di atas tadi and I think I deserve to not feel that kind of stress anymore.

Dari pengalamanku dealing with my condition, kunci utama untuk bisa healing adalah dengan mengubah pola pikir. Memang susah buat mengubahnya dan gak bisa instan. Tapi ketika kita bisa mengubah pola pikir kita, sedikit demi sedikit kita akan menjadi lebih baik. Ada sebuah buku yang pada saat itu membantu aku belajar melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Buku tersebut berjudul 'Jangan Membuat Masalah Kecil Jadi Masalah Besar' karya Richard Carlson. Recommended banget sih buku ini. Tapi mungkin kalau menurutku, apa yang kita baca/dengar/lihat itu lebih ke stepping stone yang membantu kita sedikit demi sedikit bisa jadi lebih baik kondisinya. Jadi bukan kita baca 1 buku lalu kita seperti menemukan 'obat' untuk menyelesaikan permasalahan kita.

Sebelumnya ketika lagi stres - stresnya, aku sampai ke tahap di mana mau melakukan hal yang aku sukai aja rasanya males banget. Nah, ketika kondisi mentalku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, aku mulai menemukan lagi the joy of doing things that I like, yaitu menulis. Tapi, kenapa sih aku suka menulis?

Ada dua alasan yang membuat aku suka menulis :

Pertama, melalui tulisanku aku ingin berbagi mengenai apa yang aku tahu atau pengalamanku kepada orang lain, yang harapannya bisa membantu orang yang membaca. Aku berharap apa yang aku bagikan mungkin bisa relatable dengan apa yang orang lain alami, dan semoga dari tulisanku aku bisa memberikan semangat, inspirasi, ataupun kekuatan kepada orang yang membaca.

Kedua, selain orang lain, sebenarnya I'm helping myself as well. Karena terkadang ketika aku sedang ada masalah aku diingatkan kembali tentang my thoughts when I faced that problem back then. Jadi semacam me in the past helping me in the future gitu hehe.

Oh iya menulis juga bisa membantu ketika stres lho, misalnya dengan menulis jurnal. Dulu aku nulis jurnal tapi lebih ke pengalaman apa saja yang aku alami di hari itu, tapi belakangan aku ganti ke format : hal apa yang aku rasakan hari itu dan apa yang aku pelajari hari itu.

Karena otakku itu mikirnya suka lompat - lompat dan random, jadi jurnal yang aku tulis juga jadinya isinya banyak topik 🤣 tapi I force myself to write whatever on my mind. Soalnya aku punya kebiasaan jelek nih yang pengen aku hilangkan. Jadi aku sering misalnya lagi kepikiran sesuatu, terus aku males buat brainstorm, buat analisa kenapa begini kenapa begitu, aku jadi mikir 'yaudah besok aja brainstormingnya' yang pada akhirnya berujung aku lupa 🤣 Tapi it really doesn't just go away, karena pasti pemikiran (dan juga emosi yang aku rasakan soal masalah itu) itu bakal kependem dan I don't think it is good to solve it like that.

Kalian yang suka overthinking juga boleh banget dicoba buat mulai nulis jurnal. Kalian bisa nulis pake notes di handphone ataupun nulis di buku. Intinya sih jurnal ini kayak diary aja gitu. Feel free aja kalian mau nulis apa. Atau kalau lagi suntuk dan pikiran lagi kusut banget, aku juga pernah kok cuma nyoret - nyoret gak jelas di buku 🤣

Jadi, kayak lagu Ailee tadi, dari permasalahan yang aku alami, hal itu jadi alat untuk aku bisa jadi lebih baik. My condition is wayyy better now. I'm on my way on bettering myself now, and I get to have my dream again. So in my case, writing got (me) better. 

Untuk kalian yang baca ini dan sedang mengalami hal yang sama, tetap semangat ya! Jangan lupa berdoa. Kalian bisa sharing sama orang terdekat yang kalian percaya untuk bisa mendapatkan pandangan yang berbeda soal kondisi yang kalian hadapi. Kalian juga bisa mendapatkan inspirasi ataupun 'petunjuk' dari hal - hal yang ada di sekitar : buku, lagu, film, Youtube, media sosial, manusia lain, dan lain sebagainya. Ingat juga bahwa semua proses yang kita lalui untuk jadi lebih baik butuh waktu, jadi it's okay kalau kalian stuckOpen your mind and you shall find what you need. 

Talking is easier than doing. Memang pada praktiknya sulit untuk dilakukan. Aku pun juga kadang masih merasa marah, sedih, kecewa kalau lagi berada dalam kondisi stuck. Tapi aku bisa bilang seperti apa yang aku katakan di atas karena aku juga melakukan hal itu dan mengalaminya sendiri. Things indeed seems easier and a lot more make sense ketika kita menempatkan diri kita di luar posisi kita sekarang, mencoba melihat kondisi kita dari sudut pandang orang ketiga, bukan sudut pandang kita sendiri.

Ketika kita mengalami masalah dan kita merasa gak kuat, sebenarnya itu justru menunjukkan betapa kuatnya kita, lho. Karena walaupun kita merasa ingin menyerah, kita masih ada di sana. Masih berusaha. Nanti akan ada saatnya masalah kita itu berlalu dan kita melihat ke belakang, kita akan berkata : ternyata hal itu bisa aku lewati juga. 

Semangat semuanya, everything will be okay

'Till we meet again!





Comments

Popular Posts