Mau Dibawa Kemana? Ketika Prinsip Hidup 'Let it Flow' Justru Bikin Kita Hilang Arah


Aku selalu ngerasa iri sama orang - orang yang udah tau dengan jelas apa yang mau mereka capai dalam hidupnya. Dari dulu aku selalu bingung apa yang ingin aku raih di hidupku. Aku selalu merasa kalau selama ini aku menjalani hidup sesuai dengan 'aturan' yang ada di masyarakat : 

usia sekian sekolah, 

setelah sekolah lanjut kuliah, 

setelah itu kerja,

dst. 

Seingetku, aku nggak pernah punya ambisi dalam hidup. I just did whatever things that I need to do at that time, misalnya waktu sekolah ya aku belajar karena itulah tugasnya anak sekolah. Sebetulnya, aku termasuk orang yang kompetitif, dan ketika aku merasa aku bisa melakukan sesuatu dengan baik then I will push myself to do the best. Tapi, although I did enjoy the small wins, I never had enough willpower to be the ultimate winner. Kalau juara ya bagus, kalau nggak juara juga sedih sih tapi yaudah mau gimana lagi.


Bisa dibilang aku ini termasuk orang yang hidup seperti air, mengalir aja ikut arus.


Prinsip hidup 'mengalir seperti air' itu berjalan dengan cukup baik. Sampai pada saatnya aku ada di masa di mana aku harus memilih. Contohnya saat milih jurusan kuliah. Karena aku menganggap kuliah itu adalah fase yang memang harus aku lalui (karena yang tertanam di pikiranku adalah kalau udah lulus sekolah maka next stepnya ya kuliah), bukannya sesuatu yang aku pilih sebagai stepping stone for my career, makanya dulu aku jadi bingung mau kuliah apa. Untungnya, jurusan yang akhirnya aku masuki menarik dan aku bisa enjoy masa perkuliahanku. 

Lulus kuliah, tiba lagi aku di persimpangan jalan. Abis kuliah, pasti templatenya ya kerja (atau buat bisnis sendiri). 


Timbul lagi pertanyaan : mau kerja apa ya? 


Namanya fresh graduate, biasanya pasti nyari kerjaan yang masih sesuai sama jurusan kuliahnya. Tapi eh tapi, dulu waktu aku nyari pekerjaan pertama, lumayan susah untuk nyari kerjaan di level fresh graduate yang in line sama jurusanku (Manajemen Operasional). Nyari kerjaan cukup lama, akhirnya aku keterima di pekerjaan di bidang Human Resource. Walaupun sama - sama Manajemen, bidang ini lumayan asing buatku (malahan sebelum aku kerja aku nggak tahu kalau ada bidang pekerjaan seperti yang aku jalani ini ).

Setelah masuk ke fase hidup 'kerja kerja kerja', biasanya orang akan merasa lebih bahagia dan lebih punya kendali atas hidupnya. Punya duit sendiri, bisa beli barang yang diinginkan sesuka hati, juga lebih bebas menyusun rencana hidupnya. 

Nah, buat si air mengalir kayak aku ini, kebebasan yang aku punya ini kadang bikin aku ngerasa lost dalam hidup. Bingung aja, Kayak gak ada arahnya gitu hidup ini. Kalau dulu ketika sekolah atau kuliah kan udah ada timelinenya tuh ya, SMA 3 tahun, kuliah 4 tahun (bisa mundur juga sih tapi kan tetep ada bates periode yang dikasih). Sedangkan kalau udah kerja kan gak ada lagi tuh timelinenya kerja itu sampai berapa tahun. Mungkin lain halnya kalau orang yang udah punya rencana hidup yang jelas dan tekad yang kuat. Biasanya orang semacam ini kan udah bikin planning dan target nih misalnya mau kerja sampai berapa lama dan sampai level apa. Sedangkan aku, sebagai si air mengalir, selalu mengikuti kemana hidup membawanya tanpa ada rencana mau ke mana.

Tentu sebenarnya aku juga punya keinginan dan cita - cita. Tapi, jeleknya sifatku adalah aku kurang ambisi. Aku berpikir kalau cita - citaku misalnya nanti tidak tercapai yaudah gak apa - apa (entah ini terlalu positive thinking atau terlalu pasrah namanya). Di satu sisi bikin aku nggak stres kalau aku menemui hambatan, tapi di satu sisi justru bikin stres juga karena jadi seperti nggak ada petunjuk jalan yang firm dalam menjalani hidup. And I'm still trying to fix this until this day.


Suatu hari temenku pernah bilang begini :

Nggak apa - apa kalau kamu hidup ikut arus, tapi kamu juga musti punya kayu yang bisa kamu pakai buat menghalau kalau di depan tau - tau ada batu.


Bener juga kata temenku itu ya. Walaupun hidup cuma seperti air yang ngalir aja, aku tetep harus punya senjata yang bisa bantu aku buat tetep hidup. Walaupun nggak tau mau jadi apa tapi aku juga nggak mau dong hidup dengan konyol, nggak punya sesuatu yang bisa aku pakai buat survive. 

Aku memandang si 'kayu' itu bisa berwujud skill dan juga perbuatan baik. Skill bisa mendatangkan peluang serta cuan. Sementara kalau kita berbuat baik ke orang lain selain membantu orang tersebut sebenernya kita juga sedang membantu diri kita sendiri sih menurutku. Atau kalau nggak bisa berbuat baik kepada orang lain, gak usah berbuat yang nggak - nggak juga udah cukup deh. Kalau mau jadi air, jadi air yang tenang dan bersih aja, nggak usah jadi air pasang yang merusak WKWK

Aku yakin di dunia ini bukan cuma aku yang wondering apa yang harus dilakuin. Mungkin kadang orang yang udah punya target dalam hidupnya juga bisa lelah ngikutin step by step planningnya dan justru pengen just let it flow. 

Oh iya, kayu lainnya yang pengen aku punya : tekad yang kuat dan konsistensi. Aku pengen punya tekad yang kuat buat menjalankan apa yang aku rencanakan serta sikap konsisten untuk terus berusaha dan meningkatkan skill supaya aku bisa meraih apa yang aku inginkan. 

Akhirnya aku sadar. As long as I have that wood that can help me survive this flow, no matter the water is rough or even no wind to move me forward, I believe that someday I will reach somewhere nice. 

'Till we meet again!


Comments