Stepping Out of Our Comfort Zones : The Fear and Joy Behind It
Di sini yang suka nonton acara kuliner coba angkat tangannya!
Aku suka deh nonton acara masak di TV. Walaupun sebenernya aku nggak bisa masak, tapi aku seneng aja ngeliatin orang masak. Apalagi kalo masakannya simpel dan keliatan gampang buat dibuat. Rasanya langsung pengen coba recook deh!
Nggak cuma nonton acara masak di TV, aku juga suka mantengin channel masak di Youtube. Salah duanya itu channel Usako Style dengan home-cooked mealnya dan 하루한끼 (one meal a day) dengan masakan simpelnya. Oh iya, entah kenapa kalau nonton video masak terus dengerin ASMR suara masak tuh rasanya rileks banget deh. Am I the only one who feel this?
Walaupun aku suka nonton acara masak, tapi aku menghindari nonton acara makan semacam mukbang atau food documentary gitu. Alasannya cuma satu (dan konyol) : takut jadi laper dan kepengen makan juga WKWK. Ini juga salah satu alasan kenapa 'Korean Pork Belly Rhapsody' masih manteng aja di watchlist aku di Netflix.
Sejauh ini sih aku merasa cukup puas ya cuma nonton acara masak - masak dan menahan hasrat buat nonton acara makan - makan (walaupun sambil nelen ludah kadang - kadang). Sampai suatu ketika ada kejadian yang bikin aku coba melawan ketakutan konyolku itu.
Jadi, suatu hari aku lagi nonton acara di Waku Waku Japan berjudul 'Mr. Homemaker'. Acara ini isinya tentang tiga cowok yang mencoba melakukan tugas rumah tangga gitu. Di episode yang aku tonton hari itu mereka lagi dapet misi untuk mencari 'Raja Masakan Telur 2019'. Pas tau acaranya ada makan - makannya tiba - tiba ketakutan konyolku muncul.
'Duh males banget ada acara makannya, nggak usah nonton ah,'
kira - kira seperti itu suara yang muncul di kepalaku.
Entah ada angin apa, kayaknya karena nggak tau lagi mau nonton apa, akhirnya aku coba lawan ketakutan konyolku itu dan putusin buat nonton aja. And turns out, it was really an enjoyable show! Acaranya lucu dan resep yang dibahas simpel dan most importantly keliatan enak bangeeet. Oh iya, abis nonton aku juga ngiler sih liat makanannya, tapi nggak kayak rasa takutku yang awalnya mikir bakal jadi laper sampe kepengenan makan juga.
Oh gosh, I don't know where those strange fear come from 😂
Hari itu aku belajar satu hal : melawan ketakutan dan keluar dari comfort zone ternyata bisa membawa pengalaman baru yang menyenangkan. Walaupun 'ketakutan' yang satu ini konyol, tapi aku yakin hal ini juga applicable ke ketakutan lain yang lebih besar.
Dulu aku pernah denger di sebuah podcast yang bilang hal semacam ini :
Terkadang manusia itu bisa merasa nyaman dengan ketakutan atau penderitaan yang dia alami, karena hal tersebut sudah menjadi hal yang familiar baginya. Jadi walaupun orang tersebut sebenarnya menderita, ada ketakutan buat keluar dari penderitaan itu karena dengan begitu artinya dia bakal menghadapi situasi yang sama sekali berbeda dengan yang sudah dia kenal.
Aku setuju sih sama omongan di podcast itu. Dari pengalamanku sendiri kadang walaupun rasanya situasi yang lagi dihadapin itu bikin nggak nyaman, tapi tetep ada semacem keraguan ketika mau keluar dari situasi itu. Mikirnya, kalo misalnya setelah keluar dan berhadapan sama situasi lain ternyata sama aja, or even worse ntar gimana ya? Kadang ngerasanya walaupun situasi yang kurang nyaman itu nggak enak, tapi toh masih bisa ditahan selama ini.
Bisa dibilang kalau ketidaknyamanan kita itu justru udah jadi comfort zone kita.
Ironis, ya?
Kenapa sih kita senang berada di comfort zone?
Karena kita sudah kenal dengan situasi dan kondisi yang ada di sana. Kita udah paham nih resikonya apa aja dan gimana caranya kita handle those risks. Kalau kita keluar selangkah aja dari comfort zone itu, kita udah nggak bisa lagi memprediksi apa aja yang bakal kita hadapi. Akhirnya kita jadi gelisah deh.
Ngomong - ngomong soal resiko, di bukunya yang berjudul 'Menghadapi Masalah Besar Dalam Hidup', Richard Carlson pernah bilang begini :
"...Sebenarnya ada risiko segala sesuatu akan menjadi semakin buruk... Tetapi tetap berada di dalam "sangkar" juga hanya akan menjamin penderitaan yang berkelanjutan. Risikonya 100%."
Nah lho. Ternyata apapun yang kita lakuin bakal ada resikonya. Keluar dari comfort zone ada resiko dari ketidakpastian yang udah pasti kita hadapi. Tetap di comfort zone juga ada resikonya (bedanya kita udah kenal sama resiko yang satu ini).
Tapi sebenarnya walaupun kita udah 'sahabatan' sama comfort zone kita, nggak menutup kemungkinan bakal ada hal unpredictable yang kita alami di comfort zone kita. For good or for bad, no one knows. Namanya juga hidup, even the one we know for certain kadang bakal ngasih kejutan juga.
Dari bahas acara TV tau - tau jadi deep ya wkwk. Anyway, aku cuma mau bilang kalo kadang keluar dari comfort zone itu bisa kasih hal baru ke hidup kita. Kadang hasilnya bisa menyenangkan, tapi kadang bisa juga legitimate our fears in the first place. Aku sendiri sebenernya termasuk risk averse, atau orang yang suka menghindari resiko. Sering banget aku udah takut duluan sebelom mencoba suatu hal yang baru, yang ketika aku jalani ternyata nggak seburuk yang aku takutkan.
Biarpun kadang ketakutan yang aku rasakan mungkin cuma karena aku udah sok ide 'memprediksi' hal yang akan terjadi (udah ekspektasi bakal menakutkan duluan), tetep aja bukan berarti ketakutan yang aku rasakan nggak muncul lagi ketika aku dihadapkan ke situasi yang mirip di kemudian hari. Tapi, it still worth to try exploring new things outside of our comfort zone. Aku sendiri juga masih belajar dan ngomong ke diriku sendiri buat nggak usah terlalu takut, walaupun susah karena mindset di otak kayak udah otomatis ngerasa takut duluan.
Sedikit tips buat yang mau coba step out of their comfort zone : take a little, tiny steps first. Buat masuk ke situasi yang asing dan penuh ketidakpastian pasti awalnya kita bakal ngerasa resah dan gelisah. Coba mulai dengan hal yang kecil dulu, baru kalau ternyata setelah dijalani kita merasa kalau it's not that bad baru deh kita level up our game. Mungkin bisa dicoba sekali - kali melakukan hal yang belum pernah kita lakuin. Kalau ternyata menyenangkan kita bisa dapat pengalaman yang seru, dan kalau ternyata bikin kita nggak nyaman bisa jadi pelajaran yang berharga dan bikin kita lebih mengenal diri kita sendiri. Asal yang dilakuin nggak berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain, go for it when you are ready.
Taking the first step is the most terrifying thing to do, but sometimes it might be the most important thing to do.
'Till we meet again!
Comments
Post a Comment